SD NEGERI 7 MUNTOK

Jalan Jendral Sudirman Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

#SEDASEVEN #CREN

Pemberian ranking di sekolah, perlukah?

Selasa, 18 Juni 2019 ~ Oleh Yayan Setiady ~ Dilihat 1818 Kali

Tahun pelajaran 2018/2019 akan segera berakhir, sesuai dengan jadwal,SD Negeri 7 Muntok akan membagikan raport hasil belajar seluruh peserta didik pada hari Sabtu, 22 Juni 2019. SD Negeri 7 Muntok adalah sekolah yang telah menerapkan kurikulum 2013 di semua tingkatan kelas. Kurikulum 2013  dari segi penilaiannya berbeda dengan kurikulum terdahulu yaitu KTSP. Pada kurikulum ini, penilaian terdiri dari penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. 

Satu pertanyaan yang kerapkali diajukan orangtua kepada guru wali kelas, pada momen pembagian raport anaknya adalah pertanyaan mengenai ranking. SD Negeri 7 Muntok juga mengambil kebijakan tidak  mencantumkan ranking di raport, tidak jarang memancing pendapat-pendapat yang pro dan kontra. Tentu kebijakan tersebut diambil sesuai dengan apa yang terkandung dalam kurikulum 2013 serta melalui kajian-kajian,analisis. 

Yang menjadi dasar dari kebijakan yang diambil adalah hakkat dari tujuan belajar di sekolah adalah menguasai ilmu pengetahuan,keterampilan serta memiliki akhlak yang mulia.  Proses belajar tersebut harus dapat dimonitor melalui data yang tertera di raport atau buku laporan hasil belajar siswa,baik berupa angka yang mencerminkan seberapa besar nilai prestasi siswa dalam menguasai materi pelajaran yang diajarkan ataupun data keterangan yang menjelaskan bagaimana sikap dan cara kerja siswa dalam kegiatan belajar di ekolah.

Ranking, sebagai salah satu bentuk data kuantitatif yang tertera di raport, dapat menunjukkan posisi atau urutan prestasi seorang siswa dilihat dari prestasi seluruh siswa dalam kelas atau sekolahnya. Semakin tinggi nilai ranking yang diperoleh, idealnya dapat mencerminkan semakin tinggi pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Atau sebaliknya, semakin rendah nilai ranking berarti semakin rendah pula tingkat pencapaian tujuan belajarnya. Namun pada kenyataannya, nilai ranking yang ada, tidak selamanya bisa menunjukkan secara akurat seberapa jauh tingkat pencapaian tujuan belajar siswa. Hal ini bisa terjadi misalnya karena adanya kecurangan yang dilakukan siswa pada saat pengambilan nilai dilakukan ( misal : siswa menyontek), ketidak validan alat tes (misal : soal-soal terlalu mudah atau tidak bisa mengukur tingkat penguasaan materi) atau adanya faktor subjektivitas guru terhadap penilaian yang diberikan kepada masing-masing siswa (misal: "murah" dalam memberi nilai kepada siswa yang satu, tapi ‘mahal’ memberi nilai pada siswa yang lain). Bila hal ini yang terjadi maka pemberian ranking tidak akan bermanfaat dalam membuat pemetaan tentang prestasi akademik siswa atau pemetaan tentang sejauhmana keberhasilan mencapai tujuan belajar.

Penekanan pada prestasi akademik semata pada saat penentuan ranking yang selama ini dilakukan, juga seringkali dianggap sebagai segi negatif dari adanya pemberian ranking. Karena hal ini dianggap mengabaikan prestasi-prestasi non akademik yang dimiliki siswa. Anak yang memiliki ranking tinggi atau dianggap pintar, bisa saja sebenarnya memiliki banyak kelemahan dalam bidang non akademis. Atau sebaliknya, seorang anak yang memiliki ranking rendah atau dianggap tidak pintar, belum tentu seorang tidak memiliki keunggulan atau kelebihan.

Misalnya Anak yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam bidang matematika akan sangat sulit dibandingkan kemampuannya dengan anak-anak yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam hal olahraga atau seni. Padahal dalam proses pembuatan ranking, semua bidang kemampuan akademik dinilai setara satu sama lainnya, dan bisa dijumlahkan.

Segi negatif lain dari pemberian ranking adalah adanya kecenderungan untuk memberi label pada anak. Pada anak yang memperoleh nilai ranking yang baik (misalnya 5 atau 10 besar), maka secara tidak langsung akan di”cap” pintar sehingga bukan tidak mungkin akan membuat anak menjadi sombong atau “overconfidence”. Sebaliknya anak yang mendapat nilai ranking rendah , bukan tidak mungkin akan menjadi anak yang rendah diri.

Selain itu, pemberian ranking juga bisa membuat sebagian anak menjadi merasa tertekan atau merasa stress, karena ia merasa kalah bersaing dengan teman-temannya. Dengan adanya perasaan stress ini, bukan tidak mungkin justru membuatnya semakin tidak bersemangat untuk belajar dan membuatnya semakin mendapatkan nilai ranking yang rendah, demikian seterusnya sehingga konsep dirinya menjadi semakin buruk.

Walaupun demikian, pemberian ranking sebenarnya juga masih memiliki manfaat, misalnya bagi siswa dengan gaya belajar tertentu (menyukai tantangan), maka dengan adanya ranking bisa memacu semangat belajarnya. Selain itu, dengan adanya ranking, guru dapat lebih mudah untuk mengelompokkan siswa yang pintar dan kurang pintar sehingga kelas menjadi lebih homogen dan memudahkan guru untuk menyesuaikan metode pengajarannya dengan daya tangkap kelompok siswa tersebut.

Melihat segi negatif yang lebih banyak ketimbang segi positif dari pemberian ranking di raport siswa, seperti diuraikan di atas, maka kebijakan untuk tidak mencantumkan ranking di raport tampaknya dapat menjadi alternatif yang bijaksana. Hal ini mengingat bahwa tujuan belajar yang sesungguhnya adalah bagaimana anak bisa menguasai ilmu atau ketrampilan yang diajarkan kepadanya, bukan untuk membandingkannya dengan anak lain, yang bisa mengarah pada terabaikannya potensi dan kemampuan khas yang dimiliki masing-masing anak.

Kalaupun tetap ingin memberikan ranking, hendaknya ranking cukup diketahui oleh guru atau orangtua murid saja dengan maksud untuk keperluan-keperluan khusus, seperti untuk menjadi bahan pertimbangan pada proses seleksi ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, merencanakan program-program remedial atau program-program yang dapat mengoptimalkan potensi anak, dsb. Namun demikian, bila hal ini dilakukan, maka perlu diingat bahwa pemberian ranking tersebut bukan ditujukan untuk membedakan besarnya penghargaan yang akan diberikan kepada anak. Setiap Anak harus mempunyai bakat,potensi yang berbeda,kelebihan dan kekurangan masing-masing, mari kita bersama mengembangkan hal tersebut.

 Disadur dari berbagai sumber

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT